Dad, God sent me and mom another guard for replacing
your place. Hidup dimulai dari sebuah teriakan menantang dunia. Semoga kau
melihatnya dari surga. welcome world, keponakan kedua!
Kamis, 08 Mei 2014
Minggu, 27 April 2014
Selamat Empat Tahun
Bahtera kapal itu sedang
menepi, menautkan tali. Di sebuah pulau berwajahkan usia. Empat tahun lamanya. Di
sebuah pulau gambar-gambar kesalahan diperlihatkan, sebuah pulau sarat
intropeksi diri. Empat tahun ke belakang yang tak luput kesalahan, kelalaian,
kekhilafan. Tapi dibarengi sebuah maaf dan perbaikan. Hingga akhirnya kapal
kami mencapai pulau ini.
Di tepi pantai, ombak
menggulung, menggerus karang, pasir memasrahkan diri sesaat tersapu ombak, waktu
terus melaju. Dan kami, terbawa di dalamnya. Tertunduk pada waktu yang tak
punya kompromi soal berhenti, waktu yang hakiki. Kapl kami, bukan tanpa
goncangan melaju di titik 48 bulan ini. Sesaat kapal kami terguncang badai,
sejenak kehilangan arah, persediaan bahan bakar yang menipis, semua pernah kami
lalui. Tapi kami bertahan. Kami nahkodanya, kami yang menjalankan, saling
bergenggam tangan hingga kahirnya rintangan-rintangan itu tak ada artinya. Kami
sudah meraih pulau ini, keindahannya yang benar-benar pantas untuk kami.
Selamat
empat tahun onyet,
Dari
kekasihmu
Rabu, 19 Februari 2014
WAKTU
waktu yang
hakikat
Bagi para
pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan
Namun disana,
dibalik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja yang tak pernah
terkalahkan
Bagi para
politisi dan olahragawan
Waktu adalah kesempatan
yang singkat, brutal, dan mahal
Para seniman
kadang meilhat waktu sebagai angin, hantu, bahan kimia, seorang putri, payung,
seuntai tasbih, atau sebuah rezim
Salvador Dali
telah melihat waktu dapat meleleh
Bagi para
ilmuwan
Waktu umpama
garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar
Atau lorong yang
dapat melelmparakan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur
Bagi mereka yang
terbaring sakit
Tergolek lemah
tanpa harapan
Waktu mereka
panggil-panggil, tak datang-datang
Bagi para petani
waktu menjadi tiran
Padanya mereka
tunduk dan patuh
Kapan menanam,
kapan menyiram, dan kapan memeanen adalaha titah dari sang waktu yang sombong
Tak bisa diajak
berunding
Tak mempan
disogok
Bagi yang tengah
jatuh cinta
Waktu mengisi
relung dada mereka dengan kegembiraan
Sekaligus
kecemasan
Karena
teristimewa untuk cinta, waktu menjelma menjadi jerat
Semakin cinta
melekat, semakin kuat waktu menjerat
Jika cinta yang
lama itu menukik, jerat itu mencekik
Rabu, 04 Desember 2013
Hastag No Offense
Lagi-lagi, semua adalah hak pribadi. Bagaimana
seseorang menyikapi dan mempergunakan nikmat Tuhan. Termasuk media sosial. Mau explore
privasi terlalu dalam? silahkan, mau bagi-bagi ilmu? Masuk itungan kebaikan,
tapi bagaimana jika media sosial yang sudah menjamur dewasa ini menjadi
pembelok jati diri? Pembelok jati diri? Em… gak jarang kan lihat betapa
berbedanya beberapa orang dalam media sosial dibangding kenyataan. Betapa mereka
begitu terkenal, betapa mereka begitu aktif dan doyan bercuap melalui sebuah
media sosial, kemudian seketika diam bahkan ketika dihadapan sebuah kelompok
yang sebenarnya mereka paham, kelompok itu membutuhkan suara mereka sebenarnya,
membutuhkan pendapat mereka untuk menghadapi suatu masalah.dan tetoooooot,
mengapa keaktifan mereka mendadak hilang? Barangkali semuanya tak pernah jadi
masalah jika memang profesi dia sebagai storywriter yang membuatnya lebih
banyak menulis daripada berbicara, tapi bagaimana jika sama-sama dari kalangan
yang horizontal dengan kita? Sama-sama rekan kerja, rekan kuliah, dan
sebagainya? Masikah bukan masalah? Jika jarak yang diperlihatkan sudah terlalu
besar? Bayangkan jika… anda berada pada suatu lingkungan, bersama orang yang
anda tahu ia begitu aktif, bersemangat, menulis apa saja di berbagai media,
tapi begitu berkumpul dalam satu kelompok, sepatah katapun tidak?
Yap, kembali lagi, semua adalah hak pribadi,
live your own life, tapi setidaknya tulisan suingkat sesingkat kualitasnya ini
bukan mau menghakimi, bukan mau mengguri, cuman mau ngingetin “Kenyataan adalah
selalu yang dihadapi, tapi tak selalu apa yang dibaca lingkungan”
*semoga tulisan ini bagian dari salah
satu yang ditermia lingkungan*
Langganan:
Postingan (Atom)